Penulis: hmtk_kinetika

  • Nanomaterial: Kecil Tapi Kaya Fungsi

    Infografis by Ndeasni Agnes

    Nanomaterial merupakan salah satu bidang penelitian yang sangat menarik untuk dikembangkan. Hingga saat ini, nanomaterial terus memberikan banyak kontribusi positif dalam berbagai bidang kehidupan. Nanomaterial beserta barang-barang yang berhasil diproduksi dapat merepresentasikan penelitian sains yang sangat berpengaruh dalam sektor industri dan ekonomi.

    Teknologi nano memberikan peluang, harapan, dan manfaat yang besar di masa depan dengan berbagai inovasi yang ditemukan. ISO mempublikasikan secara resmi bahwa nanomaterial merupakan materi dengan dimensi eksternal apapun dalam skala nano (rentang ukuran dari sekitar 1-100 nm) atau memiliki struktur internal atau struktur permukaan dalam skala nano.

    (lebih…)
  • Mengenal Jenis-Jenis Advanced Materials

    Infografis by Kholifatul Aliyahtun Nisa’a

    Dengan semakin berkembangnya kemajuan teknologi yang diiringi dengan berbagai macam riset tentang material, saat ini cukup banyak dikembangkan jenis material dengan kegunaan yang lebih spesifik dengan kemampuan yang unggul dan dapat mengakomodir kebutuhan teknologi. Material tersebut disebut advanced materials. Advanced materials merupakan bahan yang digunakan dalam aplikasi teknologi tinggi. Beberapa aplikasi advanced materials antara lain penyimpanan informasi magnetik, Integrated Circuit (IC), sistem serat optik, laser, layar LCD, komponen pesawat, dan lain sebagainya.

    (lebih…)
  • Buletin KINETIKA Maret 2023

    Buletin Kinetika bulan Maret 2023 telah terbit secara online!
    Terdapat dua buah artikel dan satu buah steam bertemakan Waste Treatment, serta satu buah reportase dinamika kampus yang dibuat oleh crew Kinetika.

    ARTIKEL

    STEAM

    REPORTASE

  • Alat Deteksi Risiko Kesehatan pada Pekerja Perkotaan

    Peningkatan produktivitas kerja telah menjadi tujuan terpenting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola makan yang buruk sehingga berdampak pada gizi yang buruk. Oleh karena itu, dikembangkanlah alat pendeteksi dini kondisi gizi dan status kesehatan. Alat ini dapat mengidentifikasi timbulnya penyakit yang berdampak pada produktivitas pekerja. Alat yang dikembangkan tersebut diberi nama Deteksi Dini Faktor Risiko Gizi dan Kesehatan (DDR-GizKes).

    (lebih…)
  • Mahasiswa Undip Ubah Limbah Kulit Kacang Tanah menjadi Asap Cair sebagai Bahan Antiseptik

    Sumber: dokumentasi pribadi

    Menjaga kebersihan tangan merupakan hal yang sangat penting terlebih di masa PPKM untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Salah satu cara yang paling mudah untuk mencegah penyebaran virus adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Hal ini merupakan salah satu protokol kesehatan yang digalangkan oleh pemerintah. Namun, umumnya bahan antiseptik yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer menggunakan bahan dasar alkohol, sedangkan bahan antiseptik yang digunakan dalam sabun antiseptik antara lain kloroksilenol dan triclosan. Bahan antiseptik yang digunakan ini dapat mengakibatkan kulit menjadi kering dan iritasi.

    Salah satu bahan alami yang berpotensi untuk dijadikan sebagai antiseptik adalah asap cair. Asap cair mengandung senyawa fenolik dan asam-asam ringan yang terbukti dapat berfungsi sebagai antibakteri. Fenol dapat mengganggu metabolisme seluler melalui pembentukan substrat, perusakan membran, inaktivasi enzim, dan khelasi logam. Kandungan asam asetat akan menurunkan pH dimana pH yang rendah dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dengan merusak membran dan penghambatan metabolisme essensial.

    Oleh karena itu, sudah mulai digunakan asap cair sebagai pengganti bahan antiseptik dengan bahan alami karena mengandung senyawa fenol, karbonil, serta asam sebagai antimikroba dan antioksidan. Sebagian besar asap cair tersebut terbuat dari tempurung kelapa dengan kandungan selulosa sebesar 26,60%. Di sisi lain, produksi kacang tanah di Indonesia mencapai 638.896 ton. Dengan jumlah produksi kacang tanah yang besar tersebut, tentunya limbah kulit yang dihasilkan juga banyak. Menurut data Kementrian Pertanian Republik Indonesia, pada tahun 2018 limbah kulit kacang tanah mencapai 102.440 ton per tahun.

    Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Wahyu Fitriani, Jasmine Kevala Deliana Nugrahaeni Putri, Lutfi Lubihanto, Nadia Taradissa Maheswari, dan Ulma Aqari Fisama) yang dibimbing oleh Dr. T. Ir. Indro Sumantri, M.Eng., mampu memberikan solusi untuk permasalahan ini. Mereka menciptakan asap cair berbahan kulit kacang tanah yang mengandung 63,5 % selulosa. Asap cair ini dibuat dengan melalui proses pirolisis, filtrasi, distilasi, dan pemurnian dengan arang aktif. Pirolisis dilakukan untuk mendapatkan senyawa fenol, karbonil dan asam pada asap cair yang bersifat antimikroba dan dapat menghambat perkembangan bakteri sehingga asap cair tersebut dapat digunakan sebagai bahan dasar antiseptik. Metode yang digunakan untuk memproduksi asap cair ini adalah metode pirolisis pada reaktor dengan suhu 300⁰C  dengan berbagai variabel waktu. Asap cair yang dihasilkan kemudian diberikan perlakuan sehingga didapatkan asap cair murni tanpa pengotor. Untuk mengetahui karakteristik asap cair tersebut dilakukan pengukuran derajat keasaman (pH) dan uji efektivitas untuk memenuhi tandar mutu asap cair sebagai antiseptik. Selain itu, asap cair dengan kalitas terbaik juga dilakukan uji antibakteri menggunakan bakteri gram-positif Staphylococcus aureus dengan metode cakram. Melalui tahap ini dapat diketahui efektivitas asap cair sebagai bahan antiseptik.

    Inovasi ini tentunya sangat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan juga industri farmasi. Dimana dengan memproduksi asap cair berbahan alami kulit kacang tanah dapat mereduksi permasalahan limbah dari kulit kacang tanah yang dihasilkan serta dapat menciptakan sebuah produk antiseptik yang aman dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit yang dapat berdaya saing.

    Penelitian ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Riset (PKM R) tahun 2021. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai dari limbah kulit kacang tanah serta menghasilkan produk antiseptik yang aman dan ramah lingkungan.