Kosmetik Berbahan Rumput Laut di Masa Pandemi Covid-19

Sumber foto : unsplash.com

Perkembangan kebutuhan perempuan dalam mempercantik diri dan melakukan perawatan terus mendorong permintaan produk pada industri kosmetik. Dalam kondisi seperti ini, industri kosmetik dapat meningkat ke keadaan yang lebih baik. Peningkatan mulai dari bahan baku, produksi, teknik pemasaran, serta kualitas dari produk itu sendiri mulai dikembangkan oleh industri kosmetik, khususnya produsen lokal. Kosmetik sendiri telah menguasai perdagangan dunia sejumlah 5%, sehingga peluang untuk menciptakan inovasi oleh perusahaan kosmetik semakin berkembang.

PT Rumah Rumput Laut yang berlokasi di Desa Cihideung Ilir, Ciampea, Bogor merupakan salah satu unit usaha lokal yang bergerak di bidang kosmetik. PT Rumah Rumput Laut merupakan perusahaan kosmetik yang memanfaatkan rumput laut sebagai bahan baku utamanya. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang sedang berkembang dan mengedepankan mutu serta inovasi terbaru dengan meningkatkan hasil perikanan yaitu rumput laut sebagai bahan bakunya. Terobosan yang dilakukan oleh PT Rumah Rumput Laut dengan memanfaatkan hasil laut ini membuka banyak lapangan pekerjaan, khususnya untuk warga sekitar. Proses pembuatan produk kosmetik ini menggunakan bahan baku utama rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut dikirim dalam keadaan kering oleh petani rumput laut ke perusahaan dengan rata-rata pengiriman sebanyak 30-40 kilogram dan dilakukan empat kali dalam setahun. Produk yang dihasilkan oleh PT Rumah Rumput Laut antara lain Seaweed Blackmask, Seaweed Honeymask, Seaweed Alomask, Seaweed Pomade, Seaweed Supercream, Llipbalm, dan Hand and Body Lotion. Produk-produk tersebut dijual dan dipasarkan secara langsung kepada konsumen serta melalui media promosi. Media promosi yang dipilih oleh perusahaan ini adalah sosial media, sponsorship, e-commerce, endorsement, dan bazar. 

Penjualan terus mengalami peningkatan pada awal tahun 2019 hingga Maret 2020. Namun, karena adanya pandemi pada waktu itu pemilik perusahan membuat kebijakan untuk mengurangi jumlah produksi. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi wabah Covid-19 yang tengah menyebar hingga saat ini. Produksi tetap dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produk, mengembangkan perusahaan, serta mementingkan kesejahteraan karyawannya. Rata-rata penjualan didominasi oleh penjual reseller serta online shop guna membatasi kontak langsung dengan konsumen.


Sumber: jurnal.ipb.ac.id https://journal.ipb.ac.id/index.php/pim/article/view/31738

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *