Buletin Kinetika bulan Maret 2023 telah terbit secara online! Terdapat dua buah artikel dan satu buah steam bertemakan Waste Treatment, serta satu buah reportase dinamika kampus yang dibuat oleh crew Kinetika.
Peningkatan produktivitas kerja telah menjadi tujuan terpenting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola makan yang buruk sehingga berdampak pada gizi yang buruk. Oleh karena itu, dikembangkanlah alat pendeteksi dini kondisi gizi dan status kesehatan. Alat ini dapat mengidentifikasi timbulnya penyakit yang berdampak pada produktivitas pekerja. Alat yang dikembangkan tersebut diberi nama Deteksi Dini Faktor Risiko Gizi dan Kesehatan (DDR-GizKes).
Menjaga kebersihan tangan merupakan hal yang sangat penting terlebih di masa PPKM untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Salah satu cara yang paling mudah untuk mencegah penyebaran virus adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Hal ini merupakan salah satu protokol kesehatan yang digalangkan oleh pemerintah. Namun, umumnya bahan antiseptik yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer menggunakan bahan dasar alkohol, sedangkan bahan antiseptik yang digunakan dalam sabun antiseptik antara lain kloroksilenol dan triclosan. Bahan antiseptik yang digunakan ini dapat mengakibatkan kulit menjadi kering dan iritasi.
Salah satu bahan alami yang berpotensi untuk dijadikan sebagai antiseptik adalah asap cair. Asap cair mengandung senyawa fenolik dan asam-asam ringan yang terbukti dapat berfungsi sebagai antibakteri. Fenol dapat mengganggu metabolisme seluler melalui pembentukan substrat, perusakan membran, inaktivasi enzim, dan khelasi logam. Kandungan asam asetat akan menurunkan pH dimana pH yang rendah dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dengan merusak membran dan penghambatan metabolisme essensial.
Oleh karena itu, sudah mulai digunakan asap cair sebagai pengganti bahan antiseptik dengan bahan alami karena mengandung senyawa fenol, karbonil, serta asam sebagai antimikroba dan antioksidan. Sebagian besar asap cair tersebut terbuat dari tempurung kelapa dengan kandungan selulosa sebesar 26,60%. Di sisi lain, produksi kacang tanah di Indonesia mencapai 638.896 ton. Dengan jumlah produksi kacang tanah yang besar tersebut, tentunya limbah kulit yang dihasilkan juga banyak. Menurut data Kementrian Pertanian Republik Indonesia, pada tahun 2018 limbah kulit kacang tanah mencapai 102.440 ton per tahun.
Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Wahyu Fitriani, Jasmine Kevala Deliana Nugrahaeni Putri, Lutfi Lubihanto, Nadia Taradissa Maheswari, dan Ulma Aqari Fisama) yang dibimbing oleh Dr. T. Ir. Indro Sumantri, M.Eng., mampu memberikan solusi untuk permasalahan ini. Mereka menciptakan asap cair berbahan kulit kacang tanah yang mengandung 63,5 % selulosa. Asap cair ini dibuat dengan melalui proses pirolisis, filtrasi, distilasi, dan pemurnian dengan arang aktif. Pirolisis dilakukan untuk mendapatkan senyawa fenol, karbonil dan asam pada asap cair yang bersifat antimikroba dan dapat menghambat perkembangan bakteri sehingga asap cair tersebut dapat digunakan sebagai bahan dasar antiseptik. Metode yang digunakan untuk memproduksi asap cair ini adalah metode pirolisis pada reaktor dengan suhu 300⁰C dengan berbagai variabel waktu. Asap cair yang dihasilkan kemudian diberikan perlakuan sehingga didapatkan asap cair murni tanpa pengotor. Untuk mengetahui karakteristik asap cair tersebut dilakukan pengukuran derajat keasaman (pH) dan uji efektivitas untuk memenuhi tandar mutu asap cair sebagai antiseptik. Selain itu, asap cair dengan kalitas terbaik juga dilakukan uji antibakteri menggunakan bakteri gram-positif Staphylococcus aureus dengan metode cakram. Melalui tahap ini dapat diketahui efektivitas asap cair sebagai bahan antiseptik.
Inovasi ini tentunya sangat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan juga industri farmasi. Dimana dengan memproduksi asap cair berbahan alami kulit kacang tanah dapat mereduksi permasalahan limbah dari kulit kacang tanah yang dihasilkan serta dapat menciptakan sebuah produk antiseptik yang aman dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit yang dapat berdaya saing.
Penelitian ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Riset (PKM R) tahun 2021. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai dari limbah kulit kacang tanah serta menghasilkan produk antiseptik yang aman dan ramah lingkungan.
Buletin Kinetika bulan Februari 2023 telah terbit secara online! Terdapat dua buah artikel dan satu buah steam bertemakan Oleochemical Industry, serta satu buah reportase dinamika kampus yang dibuat oleh crew Kinetika.
Pekalongan (14/1). Desa Jolotigo adalah salah satu desa di Kecamatan Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Secara geografis, Desa Jolotigo terletak di pegunungan. Mata pencaharian penduduk di Desa Jolotigo sebagian besar adalah sebagai petani. Salah satu permasalahan yang muncul dalam kegiatan pertanian maupun perkebunan adalah adanya gulma atau tanaman pengganggu yang dapat menurunkan kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Bioherbisida merupakan senyawa yang mampu mengendalikan pertumbuhan gulma. Bioherbisida mampu menanggulangi gulma dengan ramah lingkungan dan dapat dibuat dari limbah air kelapa dengan proses fermentasi sederhana.
Dengan ide tersebut, Azman Qori Hanafi, mahasiswa KKN Tim I UNDIP 2022/2023 dengan tiga dosen pembimbing lapangan, yaitu Bapak Heri Sugito, M.Sc., Ibu Nenik Woyanti., SE., M.Si., dan Bapak Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. melaksanakan kegiatan sosialisasi pembuatan bioherbisida pada warga di Desa Jolotigo, Talun khususnya bagi para petani. Sosialisasi ini diikuti oleh beberapa warga di Desa Jolotigo dan dilaksanakan pada Sabtu, 14 Januari 2023.
Berikut merupakan langkah pembuatan bioherbisida dari limbah air kelapa.
Tuangkan air kelapa sebanyak 4 liter dan gramaxone 1 liter lalu diaduk.
Masukkan ragi tape sebanyak 25 butir yang sudah dihaluskan untuk mempercepat kematangan.
Masukkan pupuk urea 500 gram lalu aduk kembali.
Campuran didiamkan selama 7-10 hari untuk difermentasi. Tutup botol dibuka satu hari sekali.
Bioherbisida yang telah difermentasi selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki penyemprotan untuk disemprotkan pada gulma atau tanaman pengganggu.
Program ini bertujuan untuk memberikan ilmu tambahan kepada warga sekitar dalam pembuatan herbisida secara mandiri guna mengendalikan gulma atau tanaman pengganggu. Selain itu, produk pertanian di Desa Jolotigo diharapkan akan lebih aman dan sehat terbebas dari tanaman pengganggu.