Kategori: Kabar Tekkim

  • Buletin KINETIKA Juni 2023

    Buletin Kinetika bulan Juni 2023 telah terbit secara online!
    Terdapat satu buah artikel dan satu buah steam bertemakan Utility in Industri, serta satu buah reportase dinamika kampus yang dibuat oleh crew Kinetika

    ARTIKEL

    STEAM

    REPORTASE

  • Mahasiswa Undip Ubah Limbah Kulit Kacang Tanah menjadi Asap Cair sebagai Bahan Antiseptik

    Sumber: dokumentasi pribadi

    Menjaga kebersihan tangan merupakan hal yang sangat penting terlebih di masa PPKM untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Salah satu cara yang paling mudah untuk mencegah penyebaran virus adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Hal ini merupakan salah satu protokol kesehatan yang digalangkan oleh pemerintah. Namun, umumnya bahan antiseptik yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer menggunakan bahan dasar alkohol, sedangkan bahan antiseptik yang digunakan dalam sabun antiseptik antara lain kloroksilenol dan triclosan. Bahan antiseptik yang digunakan ini dapat mengakibatkan kulit menjadi kering dan iritasi.

    Salah satu bahan alami yang berpotensi untuk dijadikan sebagai antiseptik adalah asap cair. Asap cair mengandung senyawa fenolik dan asam-asam ringan yang terbukti dapat berfungsi sebagai antibakteri. Fenol dapat mengganggu metabolisme seluler melalui pembentukan substrat, perusakan membran, inaktivasi enzim, dan khelasi logam. Kandungan asam asetat akan menurunkan pH dimana pH yang rendah dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dengan merusak membran dan penghambatan metabolisme essensial.

    Oleh karena itu, sudah mulai digunakan asap cair sebagai pengganti bahan antiseptik dengan bahan alami karena mengandung senyawa fenol, karbonil, serta asam sebagai antimikroba dan antioksidan. Sebagian besar asap cair tersebut terbuat dari tempurung kelapa dengan kandungan selulosa sebesar 26,60%. Di sisi lain, produksi kacang tanah di Indonesia mencapai 638.896 ton. Dengan jumlah produksi kacang tanah yang besar tersebut, tentunya limbah kulit yang dihasilkan juga banyak. Menurut data Kementrian Pertanian Republik Indonesia, pada tahun 2018 limbah kulit kacang tanah mencapai 102.440 ton per tahun.

    Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Wahyu Fitriani, Jasmine Kevala Deliana Nugrahaeni Putri, Lutfi Lubihanto, Nadia Taradissa Maheswari, dan Ulma Aqari Fisama) yang dibimbing oleh Dr. T. Ir. Indro Sumantri, M.Eng., mampu memberikan solusi untuk permasalahan ini. Mereka menciptakan asap cair berbahan kulit kacang tanah yang mengandung 63,5 % selulosa. Asap cair ini dibuat dengan melalui proses pirolisis, filtrasi, distilasi, dan pemurnian dengan arang aktif. Pirolisis dilakukan untuk mendapatkan senyawa fenol, karbonil dan asam pada asap cair yang bersifat antimikroba dan dapat menghambat perkembangan bakteri sehingga asap cair tersebut dapat digunakan sebagai bahan dasar antiseptik. Metode yang digunakan untuk memproduksi asap cair ini adalah metode pirolisis pada reaktor dengan suhu 300⁰C  dengan berbagai variabel waktu. Asap cair yang dihasilkan kemudian diberikan perlakuan sehingga didapatkan asap cair murni tanpa pengotor. Untuk mengetahui karakteristik asap cair tersebut dilakukan pengukuran derajat keasaman (pH) dan uji efektivitas untuk memenuhi tandar mutu asap cair sebagai antiseptik. Selain itu, asap cair dengan kalitas terbaik juga dilakukan uji antibakteri menggunakan bakteri gram-positif Staphylococcus aureus dengan metode cakram. Melalui tahap ini dapat diketahui efektivitas asap cair sebagai bahan antiseptik.

    Inovasi ini tentunya sangat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan juga industri farmasi. Dimana dengan memproduksi asap cair berbahan alami kulit kacang tanah dapat mereduksi permasalahan limbah dari kulit kacang tanah yang dihasilkan serta dapat menciptakan sebuah produk antiseptik yang aman dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit yang dapat berdaya saing.

    Penelitian ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Riset (PKM R) tahun 2021. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai dari limbah kulit kacang tanah serta menghasilkan produk antiseptik yang aman dan ramah lingkungan.

  • Pembuatan Bioherbisida yang Ramah Lingkungan Oleh Mahasiswa UNDIP sebagai Upaya Penanggulangan Gulma di Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan

    Sumber: Dokumentasi Pribadi

    Pekalongan (14/1). Desa Jolotigo adalah salah satu desa di Kecamatan Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Secara geografis, Desa Jolotigo terletak di pegunungan. Mata pencaharian penduduk di Desa Jolotigo sebagian besar adalah sebagai petani. Salah satu permasalahan yang muncul dalam kegiatan pertanian maupun perkebunan adalah adanya gulma atau tanaman pengganggu yang dapat menurunkan kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Bioherbisida merupakan senyawa yang mampu mengendalikan pertumbuhan gulma. Bioherbisida mampu menanggulangi gulma dengan ramah lingkungan dan dapat dibuat dari limbah air kelapa dengan proses fermentasi sederhana.

    Dengan ide tersebut, Azman Qori Hanafi, mahasiswa KKN Tim I UNDIP 2022/2023 dengan tiga dosen pembimbing lapangan, yaitu Bapak Heri Sugito, M.Sc., Ibu Nenik Woyanti., SE., M.Si., dan Bapak Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. melaksanakan kegiatan sosialisasi pembuatan bioherbisida pada warga di Desa Jolotigo, Talun khususnya bagi para petani. Sosialisasi ini diikuti oleh beberapa warga di Desa Jolotigo dan dilaksanakan pada Sabtu, 14 Januari 2023.

    Berikut merupakan langkah pembuatan bioherbisida dari limbah air kelapa.

    1. Tuangkan air kelapa sebanyak 4 liter dan gramaxone 1 liter lalu diaduk.
    2. Masukkan ragi tape sebanyak 25 butir yang sudah dihaluskan untuk mempercepat kematangan.
    3. Masukkan pupuk urea 500 gram lalu aduk kembali.
    4. Campuran didiamkan selama 7-10 hari untuk difermentasi. Tutup botol dibuka satu hari sekali.
    5. Bioherbisida yang telah difermentasi selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki penyemprotan untuk disemprotkan pada gulma atau tanaman pengganggu.

    Program ini bertujuan untuk memberikan ilmu tambahan kepada warga sekitar dalam pembuatan herbisida secara mandiri guna mengendalikan gulma atau tanaman pengganggu. Selain itu, produk pertanian di Desa Jolotigo diharapkan akan lebih aman dan sehat terbebas dari tanaman pengganggu.

  • Kreasi Olahan Jagung Marning Asin dan Pedas Manis Oleh Mahasiswa UNDIP di Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan

    Sumber: Dokumentasi Pribadi

    Pekalongan (27/1). Desa Jolotigo adalah salah satu desa di Kecamatan Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Mata pencaharian penduduk di Desa Jolotigo sebagian besar sebagai petani, pengolah lahan, serta buruh pabrik. Azman Qori Hanafi, mahasiswa KKN Tim I UNDIP 2022/2023 dengan tiga dosen pembimbing lapangan, yaitu Bapak Heri Sugito, M.Sc., Ibu Nenik Woyanti., SE., M.Si., dan Bapak Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. melaksanakan kegiatan sosialisasi pembuatan olahan jagung marning pada warga di Desa Jolotigo, Talun.

    Jagung merupakan salah satu sumber daya alam yang ada di Desa Jolotigo, Talun, Pekalongan. Sejauh ini, hasil jagung tersebut hanya dijual mentah ke pasar dan sekitarnya atau hanya sebagai pakan ternak. Melihat potensi dari jagung ini, akan disosialisasikan pembuatan olahan jagung marning sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang ada di Desa Jolotigo. Marning merupakan makanan ringan yang dibuat dari biji buah jagung tua, direbus, dikeringkan, dan digoreng menggunakan minyak. Sosialisasi ini diikuti oleh beberapa warga di Desa Jolotigo dan dilaksanakan pada Jumat, 27 Januari 2023.

    Berikut merupakan langkah pembuatan olahan jagung marning.

    1. Cuci jagung sampai bersih.
    2. Masukkan air 3 liter.
    3. Masukkan jagung 1 kg dan larutkan kapur sirih 100 gram.
    4. Pastikan kapur sirih tercampur merata.
    5. Ketika sudah mendidih, kecilkan api dan masak sampai kulit ari tekelupas (2 jam).
    6. Apabila sudah terkelupas, cuci jagung hingga air cucian berwarna bening.
    7. Kemudian isi air ke dalam baskom serta tambahkan garam 5 sendok makan dan rebus jangung hingga mekar (4-6 jam). Tambahkan air apabila air berkurang.
    8. Setelah jagung mekar, tiriskan dan jemur sampai kering dibawah matahari.
    9. Setelah kering (1-3 hari), goreng jagung sampai berwarna emas.

    Marning dapat divariasikan dalam dua rasa, yaitu asin dan pedas. Berikut merupakan cara membuat bumbu marning asin.

    1. Haluskan semua bumbu (rebon, bawang putih, bawang merah, dan jahe).
    2. Tuangkan bumbu halus ke marning yang sudah dikeringkan.
    3. Goreng sampai berwarna emas.

    Berikut merupakan cara membuat bumbu marning pedas.

    1. Haluskan semua bumbu (bawang putih, bawang merah, gula merah, garam, dan cabai).
    2. Panaskan sedikit minyak lalu goreng bumbu hingga tercium bau sedap.
    3. Aduk hingga sedikit mengental lalu campur marning asin.
    4. Aduk sampai bumbu merata.

    Program ini bertujuan untuk memberikan ilmu tambahan kepada warga sekitar dalam pemanfaatan sumber daya alam melalui olahan lanjut dari jagung. Selain itu, program ini diharapkan dapat meningkatkan semangat untuk menumbuhkan perekonomian Indonesia melalui pengembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) oleh warga di Desa Jolotigo.

  • Mahasiswa UNDIP Memanfaatkan Limbah Ampas Tebu sebagai Pelapis Ramah Lingkungan dalam Menghambat Penyebaran Api (Flame Retardant Bio-Coating)

    Kebakaran pemukiman rentan terjadi di kota-kota besar yang padat penduduk. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kejadian kebakaran di Indonesia termasuk tinggi dibandingkan dengan negara-negara barat, yaitu sekitar kurang lebih 1000 kebakaran per tahun. Melihat tingginya kasus kebakaran pemukiman, banyak cara dilakukan untuk mencegah ataupun menanggulangi terjadinya kebakaran. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya kebakaran dengan kerugian yang besar, yaitu dengan menggunakan pelapis yang dapat menghambat penyebaran api (flame retardant).

    Selama ini pelapis penghambat penyebaran api terbuat dari material yang bersumber dari halogen dan berbasis minyak bumi. Akan tetapi, penggunaan material berbasis minyak bumi diketahui memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Begitu pula dengan penggunaan halogen yang dapat menimbulkan gas korosif dan asap hitam pekat. Keduanya berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

    Oleh karena itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro melalui program PKM-AI 2022 berinovasi memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai alternatif pelapis penghambat penyebaran api yang ramah lingkungan.

    Tim PKM ini diketuai oleh Ni Kadek Adnya Kusuma Sari (Teknik Kimia 2018), Sadam Arrois (Teknik Kimia 2018), Tiara Amelia Gunawan (Teknik Kimia 2018), dan Reza Firman Andra Saputra (Teknik Kimia 2018). Penelitian ini juga didampingi oleh dosen Dessy Ariyanti, S.T., M.T., Ph.D.

    (lebih…)