Scafer “Scallion Fertilizer” Produk Pupuk Daun Bawang oleh Mahasiswa KKN TIM II UNDIP

PEMALANG – Tim KKN Tim II UNDIP rupanya jeli menengok permasalahan dan potensi yang ada di masyarakat. Salah satunya datang dari tim KKN yang ada di desa Kaligelang, Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Salah satu potensi dari Desa Kaligelang adalah banyaknya stok bawang merah. Sebagian masyarakat di RW 05 dan RW 06 berprofesi sebagai petani bawang. Pokok permasalahan yang timbul adalah daun bawang yang begitu banyak hanya dibiarkan saja dan kurang dimanfaatkan, sehingga akhirnya hanya menjadi limbah. Oleh karena itu, mahasiswa dari Tim II KKN Universitas Diponegoro berinisiatif untuk membuat pupuk dari daun bawang yang diberi merk SCAFER. 

SCAFER atau Scallion fertilizer adalah pupuk organik cair hasil dari fermentasi daun bawang. Nama Scafer sendiri dipilih karena mewakili bahan baku yang digunakan untuk pembuatan pupuk ini, yaitu Scallion atau yang berarti daun bawang dalam bahasa inggris, dan Fertilizer.

Mahasiswa KKN Tim II UNDIP di desa Kaligelang, memanfaatkan limbah daun bawang untuk dijadikan pupuk organuk cair menggunakan alat pembuat pupuk atau biasa disebut komposter. Komposter yang dibuat oleh mahasiswa KKN UNDIP adalah jenis komposter anaerob.

Komposter Anaerob adalah alat pengomposan sederhana yang artinya tertutup, tidak ada udara dari luar yang masuk, tetapi ditambahkan pipa paralon sebagai tempat keluarnya CO2 yang dihasilkan dari proses pengomposan, sehingga selain menghasilkan pupuk organik cair  komposter buatan mahasiswa KKN UNDIP ini, juga menghasilkan pupuk kompos yang juga dapat dimanfaatkan untuk tanah penyubur tanah dan bahan pemercepat proses fotosintetis alami yang tidak menimbulkan efek samping merugikan.

Cara pembuatan pupuk organik cair Scafer adalah mempersiapkan bahan-bahan berikut: pupuk kompos kering dari, limbah daun bawang, gula merah, bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.

Potong atau rajang daun bawang yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.Larutkan bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata. Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk. Tutup tong dengan rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.

Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong. Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.

Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain. Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.

Untuk penggunaan pupuk organik cair Scafer, pupuk diaplikasikan pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan mengencerkan pupuk dengan air bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman. Kepekatan pupuk organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%. Pada kebanyakan produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1 liter pupuk diencerkan dengan 100 liter air.

“Limbah daun bawang oleh warga setempat hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian dibuang dipekarangan ataupun lahan kosong milik warga, sehingga saat hujan bau dari daun bawang tersebut akan sangat mengganggu. Oleh karna itu, kami dari Tim II KKN Universitas Diponegoro berinisiatif untuk membuat pupuk dari daun bawang ini, dimana nantinya pupuk tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk disawah ataupun perkebunan milik warga” ujar Faiz Koordniator Desa tim KKN Desa Kaligelang.

Di samping memperkenalkan produk pupuk tersebut kepada masyarakat, mahasiswa KKN desa Kaligelang juga melakukan demo bagaimana rancangan alat tersebut dan proses pembuatan sampah organik cair yang memanfaatkan sampah daun bawang sehingga dapat bernilai ekonomis tinggi. Sosialisasi dan simulasi dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2019. Sosialiasi dihadiri sekitar 40 orang ibu ibu dari PKK dari RW 5 dusun Danayasa desa Kaligelang.

Warga desa Kaligelang sangat antusias untuk melihat praktik sosialisasi dan mengetahui pemanfaatan dari limbah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.Ibu Istiana selaku salah satu anggota PKK sangat mengapresiasi pelaksanaan penyuluhan tersebut, dan juga berterimakasih dan berharap apa yang diberikan oleh mahasiswa KKN UNDIP bisa memberi motivasi bagi semua anggota PKK.

Beliau mengemukakan bahwa sudah selayaknya anak muda yang berperan langsung dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang ramah lingkungan dan tentu sangat baik bagi kesehatan dibanding pupuk anorganik sehingga sangat cocok untuk Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Faiz mengatakan, kegiatan perkumpulan bulanan ini diadakan sebagai sarana penyebaran informasi kepada anggota PKK dan sebagai wadah musyawarah PKK. “Kegiatan kali ini juga diisi oleh mahasiswa KKN UNDIP Tim II dengan materi mengenai pembuatan komposter untuk membuat pupuk kompos dan produk pupuk organic cair Scafer”.

Setelah sosiaslisasi ini warga diharapkan tidak lagi membuang limbah daun bawang secara sembarangan dan menambah nilai ekonomis dari daun bawang sendiri dimana pupuk yg dibuat dapat menjdi produk yg bernilai ekonomis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *