Potensi Minyak Jelantah sebagai Biodiesel Pada Mesin Diesel

Seperti yang kita ketahui, bahwa sumber daya alam tak terbarukan kian lama kian menipis kuantitasnya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari alternatif untuk menggantikan sumber daya alam tak terbarukan itu, seperti minyak bumi dan gas yang kerap kali digunakan untuk bahan bakar mesin salah satunya mesin diesel. Untuk menggantikan solar dari hasil olahan minyak bumi tersebut terciptalah biodiesel, yaitu bahan bakar nabati untuk aplikasi mesin atau motor diesel berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi dan/atau transesterifikasi. Sumber biodiesel ini ada bermacam-macam, yaitu salah satunya adalah penggunaan minyak jelantah sebagai biodiesel. Minyak jelantah yang merupakan minyak kelapa sawit bekas pakai masak ini dapat ditingkatkan penggunaannya sebagai biodiesel, namun penggunaan biodiesel minyak jelantah secara tunggal ini memiliki beban nitrogen oksida (NOx) yang tinggi. Maka, perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut dari minyak jelantah tersebut, yaitu dengan cara penambahan n-dekanol, nitrogen-doped, dan amino-functionalized multi-walled carbon nanotube.

Multi-walled carbon nanotube atau tabung nano karbon multi-dinding (MWCNT) dan n-dekanol yang difungsikan ini ditambahkan dalam pembuatan biodiesel WCO (Waste Cooking Oil) karena merupakan bahan aditif yang menjanjikan serta mempengaruhi peningkatan kinerja mesin diesel. MWCNT yang difungsikan memiliki sifat yang baik dalam memfungsikan mesin diesel, terutama N-MWCNT (MWCNT yang didoping dengan Nitrogen) dan NH2-MWCNT (MWCNT yang difungsikan dengan amino). Dalam prosesnya, biodiesel WCO ditambahkan dengan n-dekanol dengan perbandingan 80% biodiesel WCO dan 20% n-dekanol volume. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan sifat pembakaran biodiesel. Setelah itu, kinerja mesin diesel ditingkatkan lagi dengan dua dosis (50 ppm dan 75 ppm) dari masing-masing jenis MWCNT yang difungsikan (N-MWCNT dan NH2-MWCNT). 

Dari hasil campuran tersebut, dihasilkan emisi karbon yang lebih sedikit daripada solar pada umumnya. Kinerja mesin yang dihasilkan pun mendekati diesel. Kandungan NOx dan jelaga pun berkurang 8% dan 20% dibandingkan dengan solar. Kandungan NOx, CO, serta jelaga yang dihasilkan pada biodiesel yang ditambahkan dengan MWCNT yang difungsikan ini dapat menurun hingga 35%, 61%, dan 44% daripada diesel. Namun, terdapat beberapa efek negatif, yaitu Brake Specific Fuel Consumption (BSFC) atau konsumsi bahan bakar spesifik dinaikkan hingga 15% pada campuran biodiesel-dekanol WCO. Tingkat BTE (Brake Thermal Efficiency) juga menurun hampir 10%. Namun, efek negatif tersebut tereduksi dengan adanya MWCNT yang difungsikan dalam biodiesel-dekanol WCO tadi. Dengan percobaan campuran biodiesel-dekanol WCO dengan dosis masing-masing jenis MWCNT 75 ppm (beban 75%), tekanan awal dalam silinder mengalami peningkatan serta terjadi percepatan awal pembakaran dengan sudut tiga engkol, yang mana hal ini menyebabkan WCODNH75 lebih disarankan untuk penggunaan sebagai biodiesel. 


Sumber: EL-Seesy, A. I., Waly, M. S., El-Batsh, H. M., El-Zoheiry, R. M. 2023. Enhancement of the waste cooking oil biodiesel usability in the diesel engine by using n-decanol, nitrogen-doped, and amino-functionalized multi-walled carbon nanotube. Energy Conversion and Management 277.

https://doi.org/10.1016/j.enconman.2022.116646

10 Replies to “Potensi Minyak Jelantah sebagai Biodiesel Pada Mesin Diesel”

  1. kira-kira kapan ya kita bisa menggunakan bahan bakar alternatif ini? sepertinya masih susah untuk diimplementasikan di masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *