Perkembangan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Virus corona atau yang lebih dikenal sebagai Covid-19 telah menjadi suatu tragedi yang berujung pada kehancuran sosial dan ekonomi global. Pemerintah dan lembaga berwenang telah menerapkan langkah-langkah penangangan seperti lockdown, membatasi perjalanan internasional, bahkan memberlakukan tindakan penahanan publik untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas virus.

Sampai hari ini, tidak ada obat yang memiliki kekuatan untuk melawan infeksi dan membawa keadaan kembali normal. Hal ini membuat kita hanya memiliki satu pilihan, yaitu vaksin yang efektif dan aman untuk diproduksi secepat mungkin serta wajib tersedia bagi semua negara dan populasi yang terkena pandemi dengan harga yang terjangkau.

Ribuan teknologi mutakhir telah dimanfaatkan para peneliti untuk mengembangkan calon vaksin yang efektif dan aman, hingga saat ini telah diperoleh 108 jenis vaksin berbeda. Enam dari vaksin ini telah memasuki uji klinis, dimana ketersediaan vaksin ini terus berpacu dengan waktu di tengah angka kematian dan kehancuran yang terus meningkat.

Di Indonesia sendiri, tindakan pemberian vaksin massal sudah mulai dilakukan sejak awal tahun 2021. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/ 9860/ 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disesase 2019, tertulis enam jenis vaksin yang akan digunakan, yakni Sinovac, Pfizer, Johnson & Johnson, AstraZeneca, Moderna, dan Sinopharm.

Dari keenam jenis vaksin tersebut, vaksin Sinovac produksi China menjadi pilihan pemerintah dalam kuartal pertama pemberian vaksin di Indonesia. Vaksinasi AstraZeneca akan dimulai pada kuartal kedua, dan Pfizer dimulai pada kuartal ketiga. Target penerima vaksin sendiri berkisar di usia produktif yakni 18-59 tahun dan diharapakan dapat menyentuh angka 100 juta orang tervaksin untuk mendorong kondisi perekonomian negara. Perlu diingat bahwa masing-masing vaksin memiliki kelebihan dan karakteristik tersendiri, sehingga bisa menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memilih nantinya.


Sumber :
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0973688320300906
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/ 9860/ 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *