3 Fakta Unik Tentang Tempe

Tempe adalah salah satu makanan tradisional khas Indonesia. Di tanah air, tempe sudah lama dikenal selama berabad-abad silam. Makanan ini diproduksi dan dikonsumsi secara turun temurun, khususnya di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Tempe merupakan makanan yang terbuat biji kedelai atau beberapa bahan lain yang diproses melalui fermentasi dari apa yang secara umum dikenal sebagai ragi tempe. Lewat proses fermentasi ini, biji kedelai mengalami proses penguraian menjadi senyawa sederhana sehingga mudah dicerna. Berikut 3 fakta menarik mengenai tempe.

Bentuk Olahan Kedelai yang Paling Banyak Dikonsumsi di Indonesia

Olahan tempe sudah banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu  dalam tatanan budaya makan masyarakat suku Jawa, dan dituliskan dalam manuskrip serat Centhini. Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dijadikan untuk memproduksi tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lainlain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 6,45 kg. Hal ini wajar karena jumlah pengrajin dan tingkat konsumsi tahu dan tempe di Indonesia tergolong sangat tinggi.

Merupakan Produk Lokal tetapi Berbahan Baku Impor

Meskipun tempe merupakan produk asli Indonesia, para pengerajin tempe di Indonesia memilih impor bahan baku kedelai dari luar negeri yang salah satunya dari Amerika serikat. Hal ini dikarenakan produksi kedelai dalam negeri masih belum bisa untuk mencukupi kebutuhan kedelai di Indonesia. Saat ini, di Indonesia terdapat sekitar sekira 81 ribu usaha pembuatan tempe yang memproduksi 2,4 juta ton tempe per tahun. Industri tempe menghasilkan sekitar Rp. 37 triliun nilai tambah. Dari data yang dimiliki Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti), dari 2,2 juta ton per tahun kebutuhan kacang kedelai dalam negeri, hanya 600 ribu ton yang mampu dipenuhi oleh petani kedelai lokal. Sementara 1,6 juta ton lainnya mesti diimpor dari Amerika Serikat. Selain itu para pengerajin tempe lebih suka menggunakan kacang kedelai yang diimpor dari luar negeri, hal ini dikarenakan kualitasnya dinilai lebih bagus dibandingkan kedelai dalam negeri, sehingga akan berdampak pada tempe yang dihasilkan nantinya.

Mempunyai Harga yang Mahal di Luar Negeri

Penyebaran tempe telah meluas menjangkau berbagai kawasan. Masyarakat Eropa cukup lama mengenal tempe. Yang memperkenalkan tempe kepada masyarakat Eropa adalah imigran asal Indonesia yang menetap di Belanda. Melalui Belanda, keberadaan tempe menyebar ke negara Eropa lain seperti Belgia dan Jerman. Tercatat, tempe cukup populer di beberapa negara Eropa sejak tahun 1946. Di Amerika Serikat, tempe populer sejak pertama kali dibuat oleh Yap Bwee Hwa pada tahun 1958. Yap Bwee Hwa merupakan orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 dan mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983. Walaupun begitu, jumlah produsen tempe diluar negeri terbilang masih sangat sedikit dibandingkan produsen di Indonesia, sehingga dengan jumlah produk yang yang masih sedikit menyebabkan harga tempe menjadi mahal di Indonesia. Sebagai perbandingan tempe 226 gram di Amerika seharga 26 dollar atau 400 ribu rupiah, sedangkan di Indonesia Tempe 500 gram bisa seharga 7.000 an.


Sumber:

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2012. Tempe : Persembahan Indonesia untuk Dunia. Badan Standarisasi Nasional : Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *