Oligosakarida yang Terlupakan

kDewasa ini, banyak sekali produk makanan-minuman yang menawarkan kandungan gizi yang ‘katanya’ penting dan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi demi menjaga kesehatan saluran cerna, atau biasa disebut dengan istilah ‘prebotik’. Selain bakteri seperti Lactobacillus casei subsp, casei Shirota strain ataupun Bifidobacterium breve strain Yakult, ternyata masih ada suatu senyawa yang juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan saluran cerna bila dikonsumsi. Yak, senyawa tersebut adalah oligosakarida. Bagaimana oligosakarida dapat berguna bagi pencernaan? Mari disimak bersama.

Oligosakarida masih keluarga karbohidrat dengan bobot molekul rendah, terdiri dari tiga sampai 10 gugus gula sederhana (monosakarida). Namun, ada sebagian pendapat yang memasukan pula golongan disakarida atau gula sederhana bergugus dua kedalam golongan oligosakarida ini. Pada mulanya senyawa ini dianggap sebagai antinutrisi karena dapat menyebabkan flatulensi atau timbulnya gas dalam perut. Contohnya adalah rafinosa, stakhiosa, dan verbaskosa yang terkandung dalam bahan pangan nabati seperti kacang-kacangan (misalnya kedelai) dan beberapa jenis umbi-umbian (misalnya ubi jalar).

Akan tetapi studi terkini membuktikan bahwa oligosakarida berguna karena dapat mencegah tumbuhnya bakteri yang merugikan dalam usus. Sehingga saat ini oligosakarida sangat dipertahankan keberadaannya, bahkan ada industri di beberapa negara yang sengaja memproduksi oligosakarida untuk kemudian dijual sebagai bahan pangan fungsional.

Saluran cerna manusia, terutama usus besar, dihuni lebih dari 500 spesies bakteri yang jumlahnya mencapai triliunan. Berbagai jenis bakteri tersebut tak bisa dihindari keberadaannya karena habitat tempat hidup manusia memang tidak steril. Ada bakteri/kuman yang ‘baik’ seperti Bifidobacteria dan Lactobacillus. Ada pula bakteri yang ‘jahat’ penyebab penyakit misalnya Escherichia coli, Clostridium dan Staphylococcus. Masalah akan timbul apabila bakteri ‘jahat’ atau si penyebab penyakit (bakteri patogen) ini jjumlahnya berlebihan. Misalnya bakteri E.coli yang dapat menyebabkan diare.Itulah sebab betapa pentingnya peranan bakteri ‘baik’ di dalam saluran pencernaan bagi kesehatan tubuh.

Oligosakarida memiliki sifat tidak dapat dicerna dan diserap dalam usus kecil karena manusia tidak mempunyai enzim-enzim untuk mencernanya. Sehingga oligosakarida akan difermentasi oleh bakteri yang ada di usus besar dan selanjutnya akan mengubah komposisi bakteri usus dimana bakteri ‘baik’ bertambah jumlahnya, sedangkan bakteri ‘jahat’ menurun jumlahnya.

Selain itu, hasil fermentasi tersebut juga menghasilkan berbagai asam lemak berantai pendek yang oleh tubuh dapat digunakan sebagai sumber energi dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang merugikan, serta meningkatkan penyerapan air di usus besar.

FOS & GOS

Jenis oligosakarida yang paling populer dipasaran adalah FOS (frukto-oligosakarida) dan GOS (galakto-oligosakarida) yang sering ditemukan dalam produk susu khususnya susu bayi. FOS berasal dari buah dan sayuran, banyak ditemukan pada bawang merah, asparagus, artichoke, gandum, pisang dan juga tomat. Struktur kimianya terdiri dari molekul glukosa yang terikat pada dua, atau tiga, atau empat molekul fruktosa. FOS yang ada sekarang ini salah satunya diproduksi dari gula bit (beetroot) dengan menggunakan enzim fruktosilfuranosidase melalui peristiwa transfruktosilasi. GOS merupakan komponen dari susu sapi. GOS didapat dari laktosa melalui

24-25

Proses transgalaktosilasi dengan menggunakan enzim beta-D-galaktosidase. Struktur kimianya terdiri dai molekul glukosa dan galaktosa yang saling berikatan satu sama lain. Beberapa makanan tradisional Indonesia ternyata mengandung FOS dan GOS. Sebut saja tempe, tape ketan, tape singkong, brem cair, tauco dan acar. Selain fungsi yang telah dijelaskan sebelumnya, FOS dan GOS juga memiliki beberapa manfaat antara lain: mencegah diare dan konstipasi, mengurangi tekanan darah dan konsentrasi kolesterol di dalam serum darah, memiliki efek antikarsinogenik (mencegah kanker), dan secara tidak langsung meningkatkan produksi nutrisi, seperti vitamin B1, B2, B6, B12, asam nikotinat, dan asam folat.

FLATULENSI

Konsumsi oligosakarida yang berlebih dapat menyebabkan timbulnya gejala flatulensi, yaitu suatu keadaan menumpuknya gas-gas dalam lambung. Fermentasi oligosakarida oleh bakteri dalam usus besar juga menghasilkan berbagai macam gas, seperti karbondioksida, hidrogen, dan sejumlah kecil metan. Gas-gas tersebutlah yang akhirnya menumpuk dalam lambung yang menyebabkan flatulensi. Meskipun tidak toksik, flatulensi dapat berakibat serius. Peningkatan tekanan gas dalam rektum dapat menyebabkan tanda-tanda patologis, seperti sakit kepala, pusing, penurunan daya konsentrasi, sedikit perubahan mental, dan sedikit odema. Flatulensi juga dapat berakibat pada timbulnya dipepsi dan konstipasi usus serta diare.
Tindakan seperti perendaman kacang-kacangan dalam air, proses perkecambahan, atau fermentasi menjadi berbagai produk olahan, dapat mencegah timbulnya flatulensi yang disebabkan oleh oligosakarida. Cara lain yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar oligosakarida adalah dengan perlakuan enzim alfa-galaktosidase yang saat ini telah berhasil diisolasi dari mikroba.

KESIMPULAN

Konsumsi oligosakarida yang berlebih dapat menyebabkan timbulnya gejala flatulensi, yaitu suatu keadaan menumpuknya gas-gas dalam lambung. Fermentasi oligosakarida oleh bakteri dalam usus besar juga menghasilkan berbagai macam gas, seperti karbondioksida, hidrogen, dan sejumlah kecil metan. Gas-gas tersebutlah yang akhirnya menumpuk dalam lambung yang menyebabkan flatulensi. Meskipun tidak toksik, flatulensi dapat berakibat serius. Peningkatan tekanan gas dalam rektum dapat menyebabkan tanda-tanda patologis, seperti sakit kepala, pusing, penurunan daya konsentrasi, sedikit perubahan mental, dan sedikit odema. Flatulensi juga dapat berakibat pada timbulnya dipepsi dan konstipasi usus serta diare.
Tindakan seperti perendaman kacang-kacangan dalam air, proses perkecambahan, atau fermentasi menjadi berbagai produk olahan, dapat mencegah timbulnya flatulensi yang disebabkan oleh oligosakarida. Cara lain yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar oligosakarida adalah dengan perlakuan enzim alfa-galaktosidase yang saat ini telah berhasil diisolasi dari mikroba.

-HQ & Riri-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *